Belakangan ini, publik dikejutkan oleh kasus keracunan yang dialami anak-anak setelah mengonsumsi makanan bergizi gratis di sekolah. Program yang seharusnya membantu meningkatkan asupan gizi justru menimbulkan masalah kesehatan akibat dugaan kontaminasi atau pengolahan yang tidak sesuai standar.
Kejadian ini menjadi pengingat bahwa makanan yang bergizi tidak hanya dilihat dari kandungan gizinya, namun juga harus diperhatikan keamanan makanan dan higienitasnya. Menurut dr. Evi Verawati , MGizi, Sp.GK, pengawasan terhadap keamanan pangan dalam program makan bersama anak juga harus menjadi prioritas.
Mengapa Keamanan Pangan Sama Penting dengan Gizi
Keamanan pangan menjadi faktor penting yang seringkali luput dari perhatian. Anak-anak termasuk kelompok yang paling rentan terhadap paparan zat berbahaya dalam makanan. Sistem pencernaan dan imunitas mereka yang masih berkembang membuat efek paparan ini bisa lebih berat, baik dalam jangka pendek (misalnya diare, keracunan makanan), maupun jangka panjang (seperti gangguan pertumbuhan, imunitas, dan fungsi kognitif).
Oleh karena itu, penting bagi orang tua dan penyedia makanan anak untuk memastikan bahwa pangan yang dikonsumsi aman, bersih, dan telah melalui proses pengolahan yang higienis. Keamanan pangan bukan hanya soal “tidak busuk” atau “masih layak makan”, tetapi juga mencakup keamanan mikrobiologis, kimia, dan fisik.
Selain itu, keamanan pangan juga mendukung pemanfaatan gizi secara optimal. Makanan bergizi tinggi pun tidak akan bermanfaat jika terkontaminasi, karena infeksi saluran cerna akibat makanan tercemar dapat menurunkan penyerapan nutrisi dan memicu malnutrisi.
Beberapa pembelajaran penting dari kasus ini adalah
Proses pengawasan keamanan pangan dimulai dari Good Manufacturing Practices (GMP), hyginene dan sanitasi makananan dan penggunaan bahan tambahan makan. Good Manufacturing Practices adalah cara pengolahan makanan yang baik dan benar untuk menghasilkan makanan atau produk akhir yang aman, bermutu dan sesuai dengan selera konsumen. Prinsip GMP dimulai dari pemilihan bahan makanan, dilanjutkan pengolahan, penyimpanan hingga penyajian makanan. Setiap bahan makanan wajib berkualitas baik dan harus bebas dari kontaminasi bakteri, virus, parasite hingga protozoa serta bahan pangan berbahaya yang dilarang di dalam makanan sebelum diolah menjadi makanan jadi.
Pemilihan bahan makanan.
Bahan makanan mentah menjadi mudah rusak dan busuk dapat dikarenakan beberapa penyebab, namun yang paling utama biasanya kerusakan karena adanya mikroba. Oleh karena itu usahakan memilih bahan makanan mentah yang masih segar, tidak berbau busuk, tidak berjamur dan tidak berwarna terlalu mencolok.
Penyimpanan Bahan Makanan
Bahan makanan harus segera disimpan di ruang penyimpanan, gudang atau ruang pendingin setelah dipastikan bahan makanan tersebut memenuhi syarat yang diterima. Penyimpanan bahan makan di dalam wadah tertutup dan disertai label tanggal masuk sehingga dapat diterapkan prinsip First in First Out (FIFO).
Pengolahan makanan
Peralatan masak dan peralatan makan harus terbuat dari yang sudah ada label food grade sehingga aman dan tidak berbahaya. Suhu pengolahan minimal 90°C agar kuman patogen mati dan usahakan pemasakan tidak boleh terlalu lama agar kandungan zat gizi tidak hilang.
Penyimpanan makanan matang
Makanan yang telah dimasak dan belum waktunya dihidangkan disimpan dalam suhu yang aman (di bawah 5°C atau di atas 60°C) hingga dibagikan. Masakan disimpan dalam wadah tertutup, dan dipisahkan dari bahan mentah. Tempat atau wadah penyimpanan harus terpisah untuk setiap jenis makanan dan mempunyai tutup rapat tapi berventilasi agar dapat mengeluarkan uap air.
Selain proses GMP yang baik tentu kita juga harus perhatikan hygiene sanitasi untuk tenaga penjamah makanan dan lingkungan dapur sekitarnya. Kebersihan diri dan kesehatan penjamah makanan merupakan kunci kebersihan dalam pengolahan makanan yang aman dan sehat. Penjamah makanan juga dapat menjadi vector yang mencemari bahan pangan baik berupa cemaran fisik, kimia ataupun biologis.
Dengan penerapan prinsip GMP yang baik, higiene sanitasi, ditambah dengan edukasi gizi berkelanjutan diharapkan dapat memastikan setiap anak tidak hanya kenyang dan bergizi, tetapi juga aman dan sehat.
Edukasi gizi berkelanjutan tentang keamanan pangan perlu menjadi bagian dari program kesehatan sekolah. Guru dan orang tua berperan dalam deteksi dini keracunan makanan, sementara sekolah dapat bekerja sama dengan petugas gizi puskesmas untuk melakukan sosialisasi rutin tentang keamanan pangan dan gizi seimbang bagi anak-anak. Guru dan orang tua perlu dibekali pengetahuan untuk mengenali tanda-tanda awal keracunan makanan, seperti mual, muntah, diare, atau demam, agar dapat segera mencari pertolongan medis sebelum terjadi komplikasi.
Selain itu, anak-anak juga perlu diberikan edukasi sederhana tentang cara memilih dan mengonsumsi makanan yang aman, misalnya tidak jajan sembarangan, memperhatikan kebersihan tangan sebelum makan, dan menghindari makanan yang tampak basi atau berbau tidak wajar. Pendekatan edukatif sejak dini akan membantu membentuk perilaku makan yang sehat dan aman di masa depan.
Kesimpulan
Kasus keracunan dari program makan bergizi gratis menjadi pelajaran penting bahwa penyediaan makanan sehat untuk anak tidak hanya soal kandungan gizi, tetapi juga ada jaminan keamanan dan kebersihannya. Keamanan pangan adalah langkah pertama dalam membangun status gizi anak yang sehat, tumbuh optimal, dan berprestasi. Upaya ini memerlukan kerja sama antara keluarga, sekolah, industri pangan, dan pemerintah dalam memastikan rantai pangan yang aman dari hulu ke hilir. Dengan pengawasan yang lebih ketat dan edukasi gizi yang baik, kita dapat menjaga manfaat program ini tetap sesuai tujuan awalnya meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup anak-anak Indonesia.