Perlahan tapi Pasti, Glaukoma Merenggut Nikmat Penglihatan di Kemudian Hari

Tak bergejala, tak banyak bicara, penyakit yang satu ini dikenal sebagai pencuri penglihatan nomor wahid dengan menggorogoti lapang pandang tanpa disadari.  Bak memandang dari dalam terowongan, ya itulah keluhan khas seseorang yang telah memiliki glaukoma menahun. Luas lapang pandang berkurang jauh, seluruh sisi penglihatan menghilang dan hanya menyisakan bagian tengah saja. Alhasil pasien tersebut merasa ibarat melihat dunia dari sebuah teropong sempit. Hal tersebut menyebabkan sang pasien kerap menyenggol benda-benda di sekitarnya atau tersandung karena tidak terlihat olehnya.   Glaukoma merupakan penyebab utama dari kebutaan di dunia. Diperkirakan sekitar 60 juta di dunia memiliki glaukoma. Sekitar 2 dari 3 penderita glaukoma terdapat di benua Asia, diikuti dengan Afrika dengan jumlah kedua terbanyak. Diperkirakan jumlah penderita glaukoma akan meningkat hingga 18% pada tahun 2020 dan 74% pada tahun 2040. Tantangan glaukoma begitu besar sehingga diperlukan kewaspadaan dan pemahaman yang kuat terhadap ancaman yang satu ini.  Pahami apa itu glaukoma? Pada dasarnya, glaukoma merupakan penyakit yang menyebabkan kerusakan pada saraf penglihatan yang berada di sisi belakang bola mata. Bola mata merupakan suatu organ menyerupai bola yang terdiri atas banyak lapisan, salah satunya adalah retina, lapisan tersebut terdiri atas sel-sel penerima stimulus cahaya dimana setiap selnya terhubung dengan “kabel” yang berjalan menuju pintu keluar di belakang bola mata dalam bentuk sekumpulan serabut saraf yang berperan dalam menghantarkan stimulus tersebut ke otak. Sekumpulan “kabel” tersebut dikenal sebagai nervus optikus atau saraf penglihatan.  Penelitian-penelitian yang dilakukan hingga saat ini menunjukkan bahwa tekanan di dalam bola mata (tekanan intra okuler/TIO) berperan penting dalam proses kerusakan nervus optikus. Tekanan tersebut menekan ke segala arah, termasuk ke daerah tempat keluarnya sekumpulan berkas saraf penglihatan. Semakin tinggi TIO semakin besar kerusakan yang terjadi pada serabut saraf.  Namun tidak semua glaukoma disertai dengan peningkatan TIO. Kelompok glaukoma yang satu ini memang yang lebih lihai mencuri penglihatan kita. Tanpa peningkatan TIO, glaukoma ini nyaris tanpa gejala dan baru diketahui setelah luas lapang pandang jauh berkurang. Glaukoma sudah mulai menggorogoti meski tanpa gejala, tanpa nyeri dan bahkan tanpa adanya gangguan penglihatan. Penyakit tersebut dapat melibatkan salah satu mata atau keduanya.  Apa yang bisa kita lakukan? Mau tidak mau seseorang harus ekstra waspada terhadap glaukoma dengan melakukan deteksi dini, khususnya bagi masyarakat yang memiliki risiko tinggi. Beberapa faktor risiko glaukoma antara lain[a]: •    Usia lanjut •    Riwayat glaukoma pada keluarga •    Miopia tinggi (sulit melihat jauh sehingga memerlukan kacamata minus) •    Tekanan darah tinggi dan diabetes •    Merokok Terdapat berbagai macam pemeriksaan yang dapat digunakan untuk mendeteksi glaukoma, antara lain tes lapang pandang, funduskopi, dan tonometri. Pemeriksaan tersebut bertujuan untuk menilai luas lapang pandang, kondisi serabut saraf penglihatan dan TIO seseorang. Pemeriksaan tersebut tergolong sederhana dan banyak tersedia di berbagai institusi pelayanan kesehatan. Dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi, penyakit ini dapat dideteksi lebih awal dan terapi pencegahan dapat diberikan sejak dini sehingga dapat menurunkan risiko terjadinya glaukoma sampai separuhnya.  Begitu besar ancaman yang diberikan oleh si tangan panjang penglihatan ini. Namun, sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga ke tanah. Selihai-lihainya glaukom

Article by gladis marketing

no replies

Leave your comment