Dengue, Umum Ditemui Tak Berarti Mudah Ditangani

dengue

Oleh: dr. Tuty Herawaty, SpA / dr. Eka Adip Pradipta

Merebak sejak tahun 1950-an, infeksi virus dengue terus berkembang dengan berbagai gejala dan ancamannya. Masihkah gejala yang ditimbulkan samadengan60 tahun yang lalu?

Virus dengue termasuk kelompok Arbo-virusyang disebarkan oleh nyamuk Stegomiya aegypti (dulu Aedes aegypti) dan Stegomiya albopictus (dulu Aedes albopictus) dan memiliki wilayah cakupan yang luas di berbagai daerah tropis dan subtropis di tiga benua selama lebih dari tiga dekade. Berawal pada tahun 1954 di Manila, wabah virus dengue terus merangkak naik menjadi penyakit yang memiliki komorbiditas dan mortalitas tersering, khususnya anak-anak. Jarak antara musim wabah yang satu dengan lainnya pada awalnya berjarak cukup jauh, bisa mencapai 10-40 tahun, yang mungkin disebabkan oleh risiko paparan virus yang rendah, seperti perjalanan antar benua yang relatif belum seramai sekarang. Satu dekade terakhir wabah dengue semakin menjadi-jadi, menyebabkan penyakit ini menjadi salah satu penyakit yang paling ditakuti di dunia.

Lima dari 6 area WHO di seluruh dunia sudah pernah ‘mencicipi’ wabah demam berdarah dengue. Dari 40% populasi di dunia yang berisiko terinfeksi virus dengue, sekitar 100 juta di antaranya mengalami demam dengue dan 500 ribu kasus lainnya berkembang menjadi demam berdarah dengue (DBD). Meski anak-anak merupakan kelompok usia yang kerap menjadi ‘sasaran’ infeksi virus ini, namun telah terjadi pergeseran epidemiologi sehingga DBD juga kerap ditemui pada orang dewasa. Semakin tinggi jumlah kasus yang muncul, semakin banyak pula variasi tanda dan gejala yang ditunjukkan. Peningkatan intensitas penyakit ini memang masih belum sepenuhnya dipahami, namun pemanasan global, pertumbuhan populasi, proses urbanisasi hingga evolusi virus diduga berperan besar dalam merajarela dan mengganasnya infeksi virus yang satu ini.

Gejala infeksi virus dengue dapat berkembang mulai dari tidak bergejala (asimptomatik), sindrom virus tak khas, demam dengue (DD),demam berdarah dengue (DBD), hingga expanded dengue syndrome. Menurut terminologi dulu, demam berdarah dengue memperlihatkan gejala:seseorang dengan demam yang tinggi disertai gusi berdarah atau mimisan. Namun perlu diketahui bahwa demam berdarah dengue tidak hanya itu saja.

Yang pertama, perdarahan dapat muncul di berbagai lokasi yang rentan selain gusi dan hidung, meski keduanya merupakan salah satu yang kerap ditemui.Perdarahan yang paling mengancam dan sulit terdeteksi berada pada saluran cerna dan terkadang tidak selalu berkorelasi dengan tinggi rendahnya jumlah trombosit.Salah satu bukti perdarahan saluran cerna yang mudah dideteksi adalah buang air besar yang berwarna hitam legam menyerupai aspal dan cairan kental, atau bila perdarahan tidak terlalu banyak mungkin hanya berupa tinja yang berwarna merah hati.Bila sudah menemui tanda tersebut, segera datang ke pusat pelayanan kesehatan terdekat untuk mendapatkan tatalaksana selanjutnya.

Kedua, demam berdarah dengue juga tidak selamanya perkara berdarah.“Kebocoran” plasma darah (cairan medium sel darah) justru kerap menjadi pusat perkara pada kasus-kasus ini.Cairan darah yang seharusnya terjaga di dalam pembuluh darah justru ‘merembes’ ke jaringan-jaringan sekitar sehingga menyebabkan volume cairan di dalam pembuluh darah menurun dan darah mengental. Hal tersebutlah yang paling sering menyebabkan kondisi kritis pada pasien-pasien DBDkarena .Tidak hanya merembes, infeksi virus dengue juga sering menyebabkan rasa mual yang hebat dan muntah yang dasyat.Singkat kata, sudah bocor, kurang pula asupan cairannya.Alhasil, sang pasien pun menjadi lemas, demam tidak kunjung turun atau justru turun hingga kaki tangan sampai dingin, sampai tidak sadar atau koma. Oleh karena itu, jika anak demam dan disertai muntah hebat hingga tidak ada asupan makanan yang mumpuni, sangat dianjurkan untuk datang ke pusat pelayanan kesehatan terdekat.

Ketiga, gambaran penyakit yang beragam pada infeksi dengue belakangan ini kerap mengecoh para praktisi kesehatan.Demam akibat infeksi virus dengue sering digambarkan sebagai pelana kuda karena demam muncul sangat tinggi pada 3 hari pertama demam dan mereda pada hari ke-4 dan 5 dan mungkin akan naik kembali sebelum akhirnya pulih sepenuhnya. Namun, meningkatnya pengetahuan masyarakat dengan penggunaan obat demam, awitan demam yang meragukan, keluhan flu atau batuk pilek yang menyertai hingga keterlibatan infeksi kuman lainnya menyebabkan gambaran infeksi dengue tersamarkan.Beruntung pemeriksaan penunjang semakin canggih sehingga mampu membantu dalam mendeteksi infeksi dengue yang lebih dini, paling cepat pada hari pertama demam atau menunggu hingga hari ke-4 hingga 5 demam.

Oleh karena keragaman gambaran penyakit ini, ada baiknya kita sama-sama memperhatikan keadaan sang pasien atas munculnya tanda-tanda bahaya yang dapat meramalkan perburukan dalam waktu dekat, terlebih jika sang pasien sudah dinyatakan terinfeksi dengue pada awal-awal munculnya demam atau pernah memiliki riwayat infeksi dengue. Beberapa tanda-tanda tersebut antara lain:

  • Demam mereda namun keadaan sang pasien tak kunjung membaik
  • Nyeri perut hebat atau nyeri bila perut ditekan
  • Muntah yang terus menerus
  • Lemas, tidak responsif atau gelisah
  • Tangan dan kaki dingin atau lembab
  • Perdarahan mukosa
  • Ukuran hati membesar
  • Jumlah buang air kecil menurun
  • Akumulasi cairan (misalnya: batuk-batuk, begah,bengkak pada kaki, perut membesar, atau kelopak mata sembab)

Pada beberapa kasus, demam berdarah dengue (DBD) dapat berkembang lebih jauh sehingga melibatkan organ-organ yang relatif jarang ‘dihampiri’ oleh virus ini, keadaan tersebut dikenal sebagai expanded dengue syndrome. Gangguan dapat terjadi pada hati, jantung hingga otak dan merupakan dampak yang sangat berat dari infeksi dengue.Meski jarang, gangguan tersebut dapat bersifat fatal dan sangat sulit untuk dikendalikan.Penanganan keadaan tersebut sangat membutuhkan perhatian khusus dan perawatan intensif.

Kita memang tidak bisa menebak arah perjalanan penyakit sepenuhnya. Namun beberapa faktor dapat menjadi petunjuk seberapa besar risiko seseorang yang terinfeksi virus dengue yang kemudian berlanjut menjadi DBD, antara lainusia, jenis kelamin, dan daya tahan tubuh. Perlu dicatat bahwa, angka perawatan dan kematian tertinggi akibat infeksi dengue ditemui pada kelompok usia balita, lansia, dan pasien yang memiliki penyakit menahun lainnya. Selain itu, meski belum dipahami sepenuhnya, wanita lebih rentan untuk mengalami komplikasi yang berat dari infeksi virus dengue.

Namun ditengah kerunyaman penyakit ini, terdapat satu kabar kembira yang menyertai, yaitu fakta bahwa penyakit ini merupakan penyakit yang bersifat swasirna atau dapat pulih sendiri tanpa adanya pengobatan khusus.Yang perlu dilakukan adalah menjaga keadaan tubuh tetap prima, mencukupkan jumlah cairan tubuh, dan mencegah munculnya potensi-potensi perdarahan.Umumnya, pemulihan pasca infeksi dengue berlangsung cepat, namun pada orang dewasa proses pemulihan hingga bugar sepenuhnya mungkin membutuhkan waktu yang lebih lama.

Selalu ada hal yang bisa diusahakan untuk dilakukan di rumah sebelum memutuskan sang pasien untuk dirawat, antara lain:

  • Cukupkan istirahat
  • Perbanyak minum air putih atau minuman sesuai selera pasien (i.e susu, jus buah, cairan elektrolit, air tajin, dst) yang tidak memicu mual atau muntah. Tanda hidrasi yang baik adalah buang air kecil setiap 4-6 jam
  • Ukur suhu tubuh secara berkala dan berikan parasetamol sesuai anjuran penggunaan dengan rentang 4-6 jam.
  • Kompres dengan air hangat suam kuku untuk membantu atasi demam
  • Hindari sebisa mungkin pemberian obat nyeri (i.e aspirin, ibuprofen, dst) selama masa sakit
  • Kontrol ke dokter setiap hari untuk memantau perkembangan kondisi pasien.
  • Segera datang ke rumah sakit jika ditemukan tanda-tanda bahaya yang sudah disebutkan di atas.

Dengue mungkin telah menjadi penyakit sejuta umat, namun tetap dibutuhkan penanganan yang cepat dan cermat. Puluhan tahun sudah berlalu, namun mari waspada infeksi virus dengue selalu

 

Article by admin