CEDERA OLAH RAGA

Olah raga merupakan hal yang banyak manfaatnya. Saat mulai berolah raga, kita sadar dan tahu tujuan dan keuntungan yang akan didapatkan. Namun, walaupun kita melakukan sesuatu yang bertujuan baik untuk tubuh, sebenarnya juga sekaligus menempatkan diri pada kemungkinan terjadinya cedera. Ketidaksengajaan, kesalahan gerakan, serta salahnya penggunaan alat dan perlengkapan olah raga dapat meningkatkan risiko terjadinya cedera saat berolah raga. Pada beberapa orang cedera timbul saat berlatih atau berolah raga dengan tubuh tidak dalam kondisi prima. Kurang pemanasan dan peregangan juga dapat menyebabkan terjadinya cedera.

Cedera itu sendiri dibagi dua, yaitu yang sifatnya akut atau mendadak, dan yang kedua, cedera yang sifatnya perlahan-lahan. Terkilir atau keseleo (sprain) adalah contoh dari cedera yang timbul mendadak. Cedera yang sifatnya perlahan-lahan terjadi dimana saat pertama nyeri sedikit dirasakan pada anggota tubuh saat berolah raga, tapi tetap digunakan untuk beraktivitas, mula-mula ringan, bahkan terkadang rasa sakit terasa hilang timbul, tetapi pada akhirnya rasa sakit itu menetap dan semakin lama intensitasnya semakin kuat.

Cedera olah raga yang sering terjadi antara lain:

  1. Sprain (terkilir)
  2. Cedera pada lutut
  3. Pembengkakan otot
  4. Cedera tendon Achilles
  5. Nyeri pada tulang kering
  6. Cedera bahu (Rotator Cuff)
  7. Fraktur atau patah tulang
  8. Dislokasi sendi

Saat mengalami cedera, segera berhenti dari aktivitas yang sedang dilakukan. Memaksakan gerakan pada anggota tubuh yang cedera dapat memberburuk kondisi kerusakan jaringan yang terjadi.

Penanganan pertama yang dapat dilakukan adalah R.I.C.E (Rest, Ice, Compression, and Elevation). Metode RICE ini dapat dilakukan untuk membantu mengurangi nyeri, mengurangi pembengkakan dan membantu mempercepat penyembuhan.

R adalah rest, artinya, begitu ada bagian yang mengalami cedera harus segera diistirahatkan.

I adalah ice, bagian otot yang cedera dikompres dingin. Kompres ini efektif dilakukan dalam hari-hari awal terjadinya cedera. Ketika cedera, otot mengalami peradangan yang menyebabkan bengkak dan nyeri, es berguna untuk menghentikan proses peradangan sehingga pembengkakan tidak melebar dan rasa nyeri diharapkan berkurang. Setelah lebih dari tiga hari baru diberikan sesuatu yang sifatnya menghangatkan agar pembuluh darah melebar. Pelebaran pembuluh darah dapat membantu mengurangi proses peradangan.

C, yaitu compression, otot yang cedera dibalut dengan pembalut yang elastis.

E, yaitu elevation, setelah mengalami cedera, saat istirahat atau tidur bagian ekstremitas yang cedera diangkat satu bantal lebih tinggi untuk mengurangi pembengkakan. Posisi ini dapat membantu mengurangi pembengkakan karena ada proses gravitasi pada aliran darah.

Jika mengalami cedera segera dibawa ke dokter. Jika didiamkan dan rasa sakit tidak hilang dalam 10-14 hari sebaiknya segera diperiksakan ke dokter,karena fase penyembuhan dari cedera biasanya membutuhkan waktu 10-14 hari. Atau, jika rasa sakitnya hilang timbul lagi di tempat yang sama, sebaiknya juga segera dibawa ke dokter.

Kemungkinan tindak lanjut lainnya yang diberikan oleh dokter adalah pemberian obat untuk mengurangi rasa nyeri, immobilisasi, rehabilitasi dan jika memang sangat diperlukan dan cedera yang terjadi sudah berat baru akan dilakukan tindakan pembedahan.

Jika ingin berolahraga, kenalilah diri sendiri dan olah raga yang akan dilakukan. Sesuaikan usia dan kondisi tubuh atau penyakit yang dimiliki saat memilih jenis olah raga. Persiapkan diri dan peralatan yang diperlukan sebelum berolahraga, termasuk pakaian dan sepatu. Lakukan pemanasan sebelum memulai olahraga inti. Jangan lupa melakukan pendinginan dan peregangan setelah berolah raga.

Ditulis oleh : dr. Karibaldi Triastara, SpOT

Article by admin marketing

Leave your comment