Bahaya Mendengkur Saat Tidur

dr lenny bahaya mendengkur

Bagi kebanyakan orang, mendengkur atau istilah awamnya dikenal dengan ngorok dianggap sebagai hal biasa & wajar, yang dilakukan sebagian orang saat tidur. Akan tetapi, banyak orang tidak mengetahui bahwa mendengkur/ngorok merupakan salah satu kelainan tidur yang sering dijumpai. Selain mengganggu pasangan atau teman sekamar saat tidur, mendengkur/ngorok ternyata dapat memicu berbagai penyakit yang dapat menurunkan kualitas kesehatan seseorang bahkan sampai dapat mengakibatkan kematian.

Mendengkur /ngorok adalah suara nafas yang berisik saat seseorang tidur.  Mendengkur terjadi akibat terhambatnya udara yang melewati struktur pernafasan saat tidur sehingga menimbulkan getaran. Suara yang dihasilkan dari getaran ini dapat terdengar halus ataupun kasar.

Mendengkur/ngorok dapat terjadi baik pada orang dewasa maupun anak-anak. Pada orang dewasa mendengkur lebih banyak dialami pria, terutama dengan berat badan diatas rata-rata ideal, daripada wanita. Sekitar 4 dari 10 pria mengalami mendengkur/ngorok.

Pada anak-anak penyebab tidur ngorok yang sering dijumpai adalah amandel yang membesar. Pada dewasa penyebab umum timbulnya dengkuran adalah :

  1. Kelebihan berat badan (obesitas)
  2. Ada kelainan anatomi tubuh (langit-langit bercelah, rahang kecil atau lidah yang besar)
  3. Ada sumbatan pada hidung (pilek/alergi, tulang hidung bengkok, polip/tumor)
  4. Gaya hidup (kebiasaan merokok, konsumsi alcohol serta pemakaian obat penenang)

Sebagian besar pendengkur tanpa disadari dapat mengalami OSA (Obstructive Sleep Apnea), yaitu kondisi terhentinya nafas sejenak (sekitar 10 detik) yang terjadi>5 kali/1 jam saat tidur yang mengakibatkan kadar oksigen dalam darah turun sehingga otak memerintahkan untuk bangun dan berusaha bernafas kembali secara berulang-ulang sepanjang malam.

Berdasarkan penelitian dilaporkan, 4% pria& 2% wanita serta 1-3% anak, mengalami gejala OSA. Selain mendengkur dan hentinafas, gejala lain dari OSA adalah rasa sesak & tercekik, tidur tidak nyenyak, sakit kepala pagi hari, mengantuk yang berlebihan di siang hari, gangguan konsentrasi & memori serta gangguan emosional (depresi & mudah marah). Pada anak penderita OSA didapatkan masalah dalam pertumbuhan dan kesulitan dalam belajar. Kondisi tersebut masih sangat diremehkan di Indonesia sehingga seringkali penderita OSA terlambat mendapatkan terapi.

American Heart Association memperingatkan bahwa OSA erat kaitannya dengan beberapa penyakit kronis seperti darah tinggi, penyakit jantung, diabetes melitus, disfungsi seksual dan stroke. Pada umumnya pada penderita OSA, penyakit-penyakit tersebut diatas akan meningkat resikonya sebanyak 2 kali. Orang yang mendengkur/ngorok terus menerus setiap malam sebaiknya segera dikonsulkan kedokter spesialis THT untuk dilakukan eavaluasi klinik secara keseluruhan, dalam hal ini saluran nafas atas (mulai dari hidung sampai daerah laring) dengan menggunakan nasoendoskopi, kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan polisomnografi (PSG) untuk mengetahui derajat berat atau ringannya kondisi mendengkur/ngorok yang dialami seseorang sehingga dapat ditentukan rencana terapi yang sesuai.

Polisomnografi (PSG) yang dikenal juga sebagai sleep test merupakan pemeriksaan baku pada penderita OSA. Pemeriksaannya dapat dilakukan di laboratorium tidur (di RS) maupun di rumah, adalah pemeriksaan non-invasif, hanya ditempeli beberapa elektroda/sensor yang terhubung dengan komputer yang akan merekam gelombang otak, gerakan bola mata, tegangan otot, suara dengkuran, posisi tidur, aliran udara nafas, pergerakan nafas, denyut jantung, kadar oksigen dalam darah hingga gerakan kaki.

Pengobatan untuk mendengkur/ngorok memerlukan pendekatan multi-disiplin, baik non-bedah mau pun bedah.

Adapun terapi non-bedah :

  1. Penurunan berat badan
  2. Menghindarial kohol atau obat penenang
  3. Menggunakan obat untuk mengatasi hidung tersumbat
  4. Perubahan poisisi tidur (tidur miring)
  5. Penggunaan alat bantu CPAP (Continuous Positive Airway Pressure)

Adapun terapi bedah :

  1. Implant pilar
  2. Turbinektomi
  3. Uvula palatopharyngoplasti (UPPP)
  4. TonsilektomidanAdenoidektomi
  5. Tounge base surgery

Jika ada pendengkur di sekitar kita, bias jadi ia menderita OSA. Beritahukan, peringatkan dan ajak ia untuk memeriksakan dirinya sehingga mendapat terapi yang sesuai.

Article by admin marketing

Leave your comment